Showing posts with label Parenting Anak. Show all posts
Showing posts with label Parenting Anak. Show all posts

Wednesday, February 9, 2022

Kesalahan dalam Parenting Anak Remaja

4 Kesalahan dalam Parenting Anak Remaja yang Harus Orang Tua Hindari

Rabu, 09 Februari 2022 | 13:38 WIB

Parenting anak remaja cenderung lebih menantang dibandingkan pada balita atau anak usia sekolah dasar. Hal ini dikarenakan terdapat berbagai perubahan yang terjadi di masa remaja seperti perubahan fisik dan hormon.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit dijumpai anak remaja yang susah diatur atau dimengerti perilaku dan suasana hatinya. Namun, jangan lantas marah ya Moms ketika anak remaja Anda menunjukkan perilaku yang sulit karena hal ini tergolong umum terjadi pada remaja. Oleh sebab itu, Anda harus cermat menemukan metode parenting yang sekiranya efektif untuk mendisiplinkan anak remaja Anda.

Meskipun tidak semua metode parenting bekerja pada setiap anak remaja, akan tetapi tetap ada beberapa metode parenting yang sebaiknya tidak diterapkan oleh setiap orang tua. Dilansir dari iMOM, inilah 4 kesalahan dalam parenting anak remaja yang harus orang tua hindari.


1. Terlalu mengontrol

Sering kali, orang-orang akan menjadi sosok pengontrol tatkala mereka takut. Pasalnya, tindakan mengontrol bisa menjadi alat yang ampuh untuk mengelola rasa takut.

Ketika seorang anak remaja merasakan ketakutan orang tuanya melalui kontrol, mereka cenderung akan melawan dan memberontak atau menginternalisasi dan belajar untuk tidak mempercayai diri mereka sendiri. Dibandingkan membombardir anak dengan kontrol yang berlebihan, alangkah baiknya Anda menerapkan pendekatan yang lebih baik dengan memberikan anak pilihan dan ruang bagi konsekuensi alami untuk menjadi guru mereka.

Misalnya, Anda bisa memberikan anak remaja Anda kebebasan untuk memilih caranya sendiri dalam mempertahankan atau meningkatkan nilai sekolahnya. Untuk melihat kemajuan belajarnya, mintalah anak Anda untuk menyusun laporan mingguan dan menunjukkannya kepada Anda.


2. Berasumsi bahwa semuanya baik-baik saja

Perubahan hormon, tekanan sosial, dan kenyataan menakutkan tentang masa dewasa yang akan datang sangat bisa memengaruhi kesehatan mental anak remaja Anda lho Moms. Oleh sebab itu, sangat penting untuk menjaga koneksi selama fase remaja berlangsung. Dan, meskipun anak Anda menunjukkan ekspresi wajah yang masam, mengasingkan diri, atau bersikap agresif, namun mereka tetap masih membutuhkan koneksi dengan Anda.

Anak Anda perlu tahu bahwa Anda selalu bersedia untuk mereka ajak bicara dan membantu menemukan kepastian. Jadi, sering-seringlah mengecek dan merasa tertarik dengan dunia anak remaja Anda.

Sebaliknya, apabila Anda terus berasumsi bahwa anak remaja Anda selalu merasa baik-baik saja, itu hanya akan membuat anak berpikir bahwa Anda tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan dan mereka pun akan terdorong untuk melakukan hal yang sama kepada Anda.


3. Terlalu keras mendorong anak untuk mencapai tujuannya

Memiliki tujuan memang bagus. Itu artinya anak tahu apa yang harus mereka capai dan mereka perlu berusaha untuk sampai di titik tujuannya. Sebagai orang tua, Anda pun dituntut untuk turut serta membersamai anak dalam proses meraih cita-citanya.

Meskipun demikian, Anda harus bisa mengendalikan diri untuk tidak terlalu keras mendorong anak saat mereka berusaha mencapai tujuannya. Jika Anda tidak mampu mengendalikan diri, maka sangat mungkin bagi anak untuk merasakan berbagai tekanan yang justru bisa menghambat langkahnya.

Saat Anda memengaruhi anak untuk berfokus pada tujuan daripada proses, anak cenderung akan merasa berharga hanya jika mereka berhasil. Sebaliknya, anak akan merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa saat kegagalan datang. Selalu ingat bahwa anak Anda juga perlu melepaskan tanggung jawabnya sejenak dan melakukan suatu hal hanya untuk bersenang-senang.


4. Tidak tersedia saat anak ingin bicara

Salah satu kesalahan terbesar yang harus orang tua hindari saat mengasuh anak remaja adalah tidak meluangkan waktu untuk memberikan anak kesempatan berbicara banyak hal. Sesibuk apapun Anda, cobalah untuk menyempatkan diri berada di sisi anak remaja Anda. Pasalnya, anak akan cenderung menceritakan berbagai hal kepada Anda yang mungkin tidak Anda ketahui sebelumnya saat Anda berada di dekatnya.

Walaupun hal-hal yang anak Anda bahas terdengar sepele dan tidak penting bagi kehidupan orang dewasa, tapi berusahalah untuk tetap mendengarkan mereka dengan penuh perhatian karena momen seperti ini sangat bagus untuk membangun koneksi antara Anda dan anak. Selain itu, anak pun akan cenderung lebih terbuka dan semakin percaya kepada Anda apabila pola percakapan semacam ini terus Anda pertahankan.


Itulah 4 kesalahan yang harus orang tua hindari dalam parenting anak remaja. Apakah ada salah satu poin kesalahan yang tanpa sadar Anda lakukan hingga saat ini, Moms? Apabila ada, yuk perbaiki mulai dari sekarang dan terapkan metode parenting yang jauh lebih efektif.


Sumber :

https://momsmoney.kontan.co.id/news/4-kesalahan-dalam-parenting-anak-remaja-yang-harus-orang-tua-hindari

Monday, February 8, 2021

Mengomel Bukan Solusi

7 Tips Hadapi Remaja Laki-laki, Mengomel Bukan Solusi

Senin, 08 Feb 2021 05:35 WIB

Mendampingi anak laki-laki, terutama yang sudah menginjak remaja, kerap jadi tantangan sebagian orang tua. Kenali beberapa tips menghadapi anak laki-laki yang sudah beranjak remaja. Di masa remaja, anak laki-laki memiliki kebutuhan akan otonomi dan kemandirian. Di sisi lain, remaja laki-laki juga memiliki kebutuhan untuk bersama kawan sebaya sekaligus mencari identitas diri.

Mengutip laman Newport Academy, perilaku remaja laki-laki sebagian besar dikendalikan oleh perubahan hormonal dan neurobiologis yang terjadi selama masa pubertas.

Pada saat yang sama, otak juga masih berkembang di masa remaja. Area otak yang bertanggung jawab untuk menilai dan mengambil keputusan, korteks prefontal, belum sepenuhnya matang hingga pertengahan usia 20-an. Kondisi tersebut membuat remaja laki-laki mengalami pergeseran impuls dan emosi.

Riset menunjukkan, orang tua memperlakukan anak perempuan dan anak laki-laki secara berbeda. Anak laki-laki diperlakukan lebih kasar, diminta bersikap tegar, dan tak jarang orang tua menerapkan hukuman fisik. Padahal, cara seperti ini akan memengaruhi perkembangan anak hingga dewasa.

Saat berurusan dengan remaja laki-laki, orang tua perlu membuat batasan yang jelas. Namun, batasan tak selalu diberikan dengan cara yang keras.

Maggie Dent, edukator yang berfokus pada isu parenting, berbagi tips mengahadapi remaja laki-laki. Berikut mengutip The Guardian.


1. Jangan permalukan mereka

Mengingatkan anak perlu dilakukan, asal jangan sampai mempermalukan mereka. Beri anak peringatan yang tegas, tapi tetap hangat.


2. Katakan bahwa mereka tidak bodoh

Saat Anda mengasuh remaja aki-laki, penting untuk menggunakan 'jendela' mereka untuk melihat dunia. Mereka kerap merasa bodoh.

Sebagai orang tua, Anda disarankan untuk mengajak mereka berbicara. Anda bisa bicara soal perubahan hormonal, otak, dan fisik hingga pengaruhnya untuk mereka sehingga mereka tak lagi merasa bodoh. Cara ini akan membebaskan mereka dari rasa rendah diri.


3. Memanggil dengan penuh kasih

Jangan lupa untuk memanggilnya dengan nama yang penuh kasih. Dent mengatakan, panggilan yang penuh kasih akan mengingatkan dia bahwa Anda mencintainya, apa pun yang terjadi.


4. Tak perlu mengomel

Selalu ada hasrat untuk mengomel atau menceramahi anak saat mereka melakukan kesalahan. Dari pengalaman Dent, mengomeli remaja laki-laki seperti berteriak pada kehampaan. Ia memberikan rahasia komunikasi dengan anak laki-laki yang efektif seperti memperhatikan waktu, nada suara, dan menghindari kontak mata langsung.


5. Rumah jadi tempat aman untuk berkumpul dengan teman

Remaja laki-laki punya kebutuhan untuk bersama rekan sebayanya. Ciptakan rumah sebagai lingkungan yang ramah dan aman buat mereka. Remaja masih memerlukan pendampingan orang dewasa.


6. Ceritakan kisah pria yang baik hati

Remaja memerlukan teladan. Tak ada salahnya mengidolakan tokoh, aktor, atau penyanyi tertentu. Dent menyarankan untuk membagikan kisah-kisah mengenai laki-laki dewasa yang sempat membuat kesalahan atau gagal lalu bangkit kembali pada sang anak.


7. Mencintai mereka apa adanya

Satu hal yang perlu diingat oleh tiap orang tua adalah mencintai anak apa adanya. Tiap remaja laki-laki ingin dilihat, didengar, dan dicintai.

"Mereka lebih rapuh daripada yang kita yakini. Kita perlu mencintai dan menghargai anak kita, khususnya saat mereka tidak bisa mencintai atau menghargai diri mereka sendiri," kata Dent.


Sumber :

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20210122165513-284-597289/7-tips-hadapi-remaja-laki-laki-mengomel-bukan-solusi.

Wednesday, October 28, 2020

Memantaskan Diri Menjadi Orang Tua

Parenting, Sebuah Proses untuk Memantaskan Diri Menjadi Orang Tua Teladan

21 OKTOBER 2020

Jika ada pertanyaan, “Apa harapan Anda terhadap anak-anak?” Tentu jawaban akan beragam sekali, mulai dari ingin memiliki anak yang penurut, pintar, tidak nakal, membanggakan orang tua, dsb. Wajar ketika memiliki anak, setiap pasangan mempunyai pengharapan seperti jawaban diatas. 

Namun, pertanyaan selanjutnya, “Bagaimana cara mencetak anak memiliki karakter seperti dambaan orang tua?” Sama halnya dengan jawaban sebelumnya, cara yang diterapkan setiap orang tua tentu bervariasi. 

Jangankan antar orang tua, tidak jarang masing-masing pasangan memiliki prinsip berlainan ketika mengasuh anak. Misalnya saja, ayah menerapkan pola asuh yang cenderung disiplin, sebaliknya ibu lebih longgar dalam menerapkan aturan, dan yang terjadi kemudian, orang tua bertengkar, saling menyalahkan serta menganggap sikapnya lah yang paling tepat. 

Lalu, adakah akibatnya bagi anak ? 

Tentu saja, salah satunya adalah anak bingung karena adanya dualisme pola asuh yang pada akhirnya membuat mereka memilih mana yang dinilai lebih menyenangkan, enak, ataupun menguntungkan dirinya. Untuk apa disiplin, toh lebih enak santai. Untuk apa teratur, jika ada yang memberikan keleluasaan bersikap semaunya, dan sebagainya.

Anak adalah mereka (laki-laki atau perempuan) yang belum dewasa atau belum mengalami pubertas, dan sedang menjalani suatu proses perkembangan sangat pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. 

Ia memiliki karakteristik yang tidak sama dengan orang dewasa, misalnya saja bersifat egosentris, memiliki rasa ingin tahu yang besar, penuh fantasi, daya konsentrasi yang cenderung pendek, peniru ulung, dan mereka adalah sosok pembelajar paling potensial. Dengan mengenali beberapa karakter khas tersebut, diharapkan orang tua dapat lebih memahami dunia anak-anak mereka sehingga nantinya dapat menerapkan pola asuh yang memadai.

Lalu, pola asuh seperti apa yang dapat diterapkan secara tepat pada anak ?Pola asuh sebagai sebuah proses  bagaimana orang tua memperlakukan dan cara berinteraksi dengan anak didalamnya meliputi aktivitas yang bersifat mendidik& membimbing, memberikan perhatian, mengantarkan anak pada kedewasaan, serta penerapan aturan dalam keluarga. 

Pola asuh akan membentuk dasar kepribadian seseorang, mulai dari konsep diri, kemampuan menyelesaikan masalah, dan juga pembentukan ketrampilan atau kecakapan hidup (life skills).Pada intinya, pola asuh akan turut menentukan apakah anak kelak menjadi sosok yang tangguh (punya daya juang) atau justru rentan terhadap sumber stress.


Tipe-tipe pola asuh :

Pola asuh permisif, dicirikan dengan apa pun yang ingin dilakukananak akan diperbolehkan, dan orangtua cenderung sibuk dengan pekerjaan atau kepentingan yang lain.  Misalnya saja anak dibebaskan mengendarai motor seorang diri padahal usia belum mencukupi dengan alasan anak memaksa atau ingin seperti anak yang lain.

Pola asuh otoriter, yaitu pola pengasuhan anak yang bersifat memaksa, keras dan kaku di mana orangtua akan membuat berbagai aturan yang “saklek” dan harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak. Contohnya, anak diharuskan masuk kuliah jurusan tertentu, sementara ia memiliki harapan yang lain.

Pola asuh otoritatif, merupakan pola asuh yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal sesuai dengan kemampuan anak dengan memberikan batasan dan pengawasan yang proporsional dari orangtua. Anak diberikan kesempatan memutuskan akan mengerjakan PR atau tidur terlebih dahulu dengan mempertimbangan segala konsekuensinya.

Tugas orang tua adalah mempersiapkan anak menghadapi jamannya (Anonim). Ya, mengasuh anak idealnya perlu melihat banyak aspek. Beberapa yang perlu diperhatikan antara lain :

a. Usia anak.

Pola asuh harus dinamis sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Memperlakukan anak disaat usia mereka telah cukup dewasa dengan sikap seperti pada anak kecil tentu akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi mereka, karena itu perlakukan sesuai dengan usia perkembangannya.


b. Pahami kebutuhan dan kemampuan anak.

Setiap anak terlahir unik, berbeda satu dengan lainnya meski itu saudara kandung sekalipun. Karena itu, terima apa yang melekat dalam diri mereka, fasilitasi kemampuan dan  minatnya, serta kuatkan perasaannya jika ada keterbatasan yang mungkin dimiliki. Jangan membandingkan anak dengan saudara kandung atau anak lain (yang kita anggap sebagai contoh) karena hal tersebut dapat membuat anak merasa tidak dihargai.


c. Orang tua harus kompak

Seperti yang telah disinggung diawal, ketika ayah-ibu menunjukkan perbedaan pola asuh, anak cenderung akan memihak atau memilih yang dianggap lebih menyenangkan. Tidak jarang pula anak merasa kecewa dan sedih manakala melihat orang tua yang bertengkar karena masing-masing berpegang pada keyakinannya. Dalam hal ini, orang tua diharapkan dapat berkompromi dan sepakat dalam menerapkan nilai-nilai yang diperbolehkan dan tidak.


d. Perlunya contoh perilaku positif dari orang tua

Terkadang, orang tua meminta anak bersikap sesuai harapan mereka, misalnya jujur, tidak boros, atau melarang gunakan gadget. Sementara dalam keseharian, orang tua justru kerap berbohong, gemar menghamburkan uang, atau malah sibuk dengan handphone didepan anak. Anak membutuhkan sikap dan contoh yang positif dari orang tua, karena itu, tanamkan dan disaat yang sama tunjukkan nilai-nilai kebaikan tersebut dihadapan anak.


e. Komunikasi dua arah yang efektif

Luangkanlah waktu untuk mengobrol dengan anak. Jadilah sosok pendengar yang baik, tidak menginterupsi cerita anak, dan berikan mereka kesempatan untuk berpendapat. Berikan pertanyaan atau pernyataan yang sekiranya dapat merangsang kemampuan anak berargumen dan menganalisa suatu masalah dari sudut pandang mereka.


f. Disiplin

Sikap disiplin tidak dapat tumbuh begitu saja, melainkan harus dimulai dari hal kecil dan sederhana. Misalnya saja membereskan ranjang setiap bangun tidur, mempunyai jadwal harian untuk kegiatan ssehari-hari, dan sebagainya. Dengan sikap disiplin pula, anak akan belajar bertanggung jawab terhadap kebutuhan pribadinya.


g. Konsisten

Konsistensi erat kaitannya dengan pemberlakuan aturan. Jangan sampai ada perbedaan karena hal itu akan membuat anak menganggap enteng setiap aturan yang kita terapkan. Misalnya saja, kita melarang anak makan permen, namun dilain waktu kita membolehkan anak membeli permen untuk ia makan. Jika sikap kita seolah berubah-ubah, maka anak akan cenderung menilai bahwa kita tidak tegas dan pada akhirnya menganggap hal tersebut bukan lagi sebuah aturan.


Sumber :

https://grhasia.jogjaprov.go.id/berita/372/parenting-sebuah-proses-untuk-memantaskan-diri-menjadi-orang-tua-teladan.html

Pola Parenting Agar Remaja ‘Nurut’

Ortu Punya Anak Remaja, Terapkan Pola Parenting Ini Agar Anak ‘Nurut’ Senin 20 Nov 2023 20:44 WIB Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padja...